Hujan masih belum reda,
hujan masih begitu deras. Aku terjebak digedung ini selama dua hari, berharap
hari ini bisa pulang ke Indonesia namun bos jelek itu tidak mengizinkanku
pulang. Selalu saja ada tugas yang harus diselesaikan. Rasanya lelah sekali ingin
pulang, namun hujan semakin deras. Aku baru kembali dari pekerjaanku,
mengantarkan si artis mengurus pasportnya hampir kadaluarsa. Duduk sendirian
diruang kantorku yang luas dan menatap jendela yang langsung menuju keluar,
tidak ada siapa disini. Hanya aku seorang, yang lainnya diijinkan pulang aku
disuruh kerja rodi. Dasar duda-duda resek. Mau main game dikomputer ini tapi
rasanya bosan.
“Nooonaaaaaaa...(*bahasa
korea kakak perempuan)” teriak seorang anak laki-laki yang datang tiba-tiba. Aku
menoleh kearahnya, dan hatiku menjadi berwarna. Seorang pria kecil berlari
kearahku, wajahnya tampan mirip papanya dan pipinya yang begitu menggemaskan.
“Hei, Johan Jung! Lama
tidak bertemu” ucapku sambil mencubit pipinya yang seperti bakpao.
“Hehehee,” dia hanya tersenyum
dan tersipu malu.
“Lo kok engga sama papa?”
tanyaku.
“He said to me, when he’s meeting with big man” ucapnya dengan
bahasa inggris yang sangat lancar. Johan
bisa sedikit-sedikit berbahasa
korea karena dia lama tinggal di Amerika bersama ibunya, tetapi dia mengerti
orang korea bicara apa dengannya. Ibunya orang amerika
keturununan china dan ayahnya adalah si bos ‘jelek’ itu. Aku berharap besok
anaknya jika besar tidak seperti papanya, karena dia sangat manis.
“Do you wanna help me to bulid this?” tanya Johan, ia meminta dengan
memasang wajahnya yang imut sekali. Siapa yang tidak menolak ajakannya? Ia
menunjukkan seperangkat gundam miliknya.
“okay”
“let’s go noona” ujarnya
bersemangat, setidaknya aku ada kegiatan sambil menunggu hujan yang tidak reda
juga. Kami tertawa bersama, merakit bersama. Aku tidak pernah merakit ini
sebelumnya, tapi johan kecil ini mengajariku. Aku merasa malu sebagai wanita
dewasa.
“Hei, Johan!” tiba-tiba
seorang pria memanggilnya
“Papa!” teriaknya.
“Ayo pulang!” panggilnya
“Wait Papa, A few minutes again.” Ucap Johan yang masih serius
dengan rakitannya. Duh orang ini ganggu aja.
“Come on Johan, pesawatnya akan terbang satu jam lagi. “
“But papa.. it’s not finish yet.”
“Johan, hear papa said? Come on, johan you should
go now. You can countinue this in car right?” ujarku yang berusaha membujuknya. Wajahnya lesu
dan murung seketika. Lalu ia
“Besok kakak
akan bantu kamu lagi.” Ujarku yang setengah membujuk
“