Menjejakkan ke
Club ini sama saja membangun memori lama yang tidak pernah ingin untuk aku
bangkitkan lagi, ini semua karena terlalu ambisiusnya aku untuk menyelesaikan
masalah ini. Antrian panjang harus dilewati. Club ini dijaga sangat ketat, mereka para penjaga mengintrogasi satu-persatu identitas pengunjung. Tidak bisa sembarangan orang bisa masuk ke Club Underground ini, mereka
para penjaga memiliki mata yang sangat jeli. Para penjaga harus bisa memastikan jika pengunjung bukan stalker
atau paparazzi yang masuk ke dalam dan menyelinap untuk mengambil foto atau mencelakakan
para artis yang ada disana. Hampir seluruh pengunjung Club ini memiliki
nama di panggung hiburan Korea Selatan, sisanya mereka adalah pengusaha-pengusaha kaya
yang ingin memeras uang hasil keringatmya. Meskipun ini terdengar sebagai
Underground Club, fakta tidak dapat dipungkiri jika yang datang bukanlah orang
Underground biasa. Disini Para Rapper akan show off dengan beradu kata, mereka yang sukses menghibur akan mendapat ketenaran diantara para pengunjung. Ini adalah peruntungan yang besar bagi para rapper
underground yang ingin naik tahta. Suara Dentum DJ terdengar hingga keluar.
“Hei, Lady. Apakah
kamu melakukan reuni dengan ex-mu? Lama tak bertemu?” Seorang pria berbadan
tegap dengan mata yang sangat sipit dan kedua lengan yang kekar ditambah dengan
full tattoo naga di kedua tangannya. Memberikanku sebuah senyumannya yang hangat.
“Oh ayolah, Kim
Alejandro ini humor macam apa? Oya, tadi istrimu menelponku. Aku merasa lega jika anakmu sudah
tidak depresi lagi.” Aku berujar kepada pria itu. Ia mengembangkan
senyumnya yang lebar dan memperlihat giginya yang sudah tidak lengkap lagi.
“Ah, aku juga lega dan
berterimakasih banyak kepadamu. Ohya dia sudah lebih dulu datang kemari. aku rasa akan
menyenangkan jika melihat kalian bertatap muka. Sudah dua tahun bukan?” Goda
Alejandro sekali lagi. Ah, sudahlah aku tidak peduli dengan dia.
“Oh ayolah
Baby, aku sudah move on. aku sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari pada si ambisius itu. Apakah Kenzie ada disini?”
“Silahkan
masuk, kau bisa menemukannya.” Aku melirik tajam mendengar ucapan Alejandro “Maksutku
Kanzie.” Ucap Alejandro dan segera melanjutkan Introgasinya dengan orang selanjutnya. Segera
aku dan JiHye masuk. Aku melihat kebahagian mata JiHye. “mengapa kamu
sebahagia ini?” tanyaku kepada Jihye.
“oh, Eonni! Aku
ingin melihatmu bertatap muka dengannya lagi.” Ucap Jihye. Aku menjitak
kepalanya. Club begitu ramai. lagu yang diaransemen oleh seorang DJ terkenal berdentum keras. Jihye sudah berlari terlebih
dahulu mencari kekasihnya. Sedangkan aku ditinggal begitu saja oleh Jihye.
lampu disko terlihat elegan berpenjar diatas kepalaku. Aku terus berjalan
melewati meja, bar satu per satu dengan sabar aku mencari Kenzie, si penulis lagu untuk album
terbaru EXO. Oh ayolah, dimanakah kamu gerutuku dalam hati.
“Hei, Noona!”
tiba-tiba seorang pria memanggilku. suara ini. ah aku tidak peduli dengannya. Aku
tidak mendengar apa-apa. aku masih terus berjalan dan berpura-pura untuk tidak
melihatnya.
“Haha, Ji Soo
kau semakin cantik.” Suara pria lain lagi memanggilku. Aku tidak
mempedulikannya. Aku hafal suara siapa ini. “Hei, hyung lihatlah ex-girlfriendmu datang. Kau tidak ingin
memberikan salam kepadanya?” pria itu berkata lagi kepada pria
yang dari tadi berada disebelahnya. Berisik. “Ji Soo, tidak kah kau mau duduk
disni?” tanya seorang pria yang sepertinya dari tadi duduk disana dan
memperhatikanku. Aku menolak, dan berseru “tidak, tidak, aku bukan perempuan
murahan.” Ujarku menolak.
“oh ayolah Ji
Soo kemarilah. Aku sudah memaafkanmu, duduklah kemari.” Langkahku terdiam. “Tak
usah malu-malu, Ji Soo Noona duduklah kemari. Aku pindah deh kesebelah.” ujar pria
yang pertama memanggilku. Aku melihat sekeliling mejanya, ternyata seseorang yang
aku cari ada disini. Sepertinya hari ini aku harus berbaik hati dengan masa
lalu.
“Tidak usah
tuan doktu yang tampan, aku bisa duduk disebelah sini.” Pada akhirnya aku duduk
di lingkaran mereka, mencoba berbaik hati kepada masa lalu.
“kamu mau minum
apa Noona? Tequila? Cocktail? Atau apa yang kau suka?” ucap pria yang berada
duduk disebelahku.
“oh ayolah
beenzino. Kita seumuran jangan menggodaku seperti itu.” Aku merajuk, dadaku
berdebar. Pria yang menjadi factor utama ketakutanku diam saja dan memalingkan
wajahnya kearah lain. Katanya memaafkanku, melihatku pun dia enggan. Aku terdiam
tidak menjawab pertanyaan beenzino. Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak
bahagia melihatku ter-bully. Wanita penghibur
yang duduk mengapit pria-pria ini juga ikut tertawa terbahak-bahak padahal meeka tidak tahu apa yang ditertawakan.
“Pelayan!”
panggil beenzino “aku mau segelas tequila untuk gadis yang sedang gugup ini!”
sekali lagi dia menggodaku. Aku menyikutnya. “dia anti dengan minuman berakohol, pesankan saja segelas jus jeruk.” Ucap mantan kekasihku tiba-tiba. Aku menatapnya
kaget. Kamu masih mengingatnya? Hatiku tidak percaya dengan kata-katanya. Dia masih
mengingat hal kecil. Aku bergumam kecil “oppa”.
Doktu dan beenzino bersamaan ber-wow ria.
“Ah, aku
perkenalkan Kenzie, dia penulis lagu dari Entertaiment besar. SM.” Ucap pria
itu. “Ji Soo” aku memperkenalkan diriku dan menyalami Kenzie, ia begitu ramah. Banyak
hal yang ingin aku tanyakan. Tetapi, aku tidak bisa melakukannya disini. Akan menjadi
masalah jika ke tiga orang ini dan para gadis
penghibur ini tau.
Suara club
berdentum keras, seorang mc berteriak keras jika ‘battle’ segera dimulai. Beenzino,
Doktu dan Kenzie beranjak antusias keluar dari tempat duduk. Mereka memilih untuk
mencari area tepat untuk melihat ‘battle’. Sekarang di Sofa berbentuk persegi ini hanya ada aku dan sang masa lalu. Seketika suasana Club tiba-tiba menjadi
hening di pendengaranku. pria itu masih menatap kearah yang berlawanan, melihat
‘battle’ dari tempat duduknya.
“apakah kamu
tidak ikut mereka, oppa?” tanyaku memecah kesunyian yang kami buat sejak tadi. Aku
canggung, lalu ia diam dan menatapku. Aku menjadi salah tingkah tidak berani
menatapnya. Inilah kenapa aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak ingin
harus memutar video masa lalu. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menjadi se naif
ini. memaafkanku padahal aku belum sempat meminta maaf? Pikiranku tentang Kris
hilang seketika, suasana seperti ini yang dari dulu tidak aku inginkan untuk terjadi. “Emm..
aku akan kesana oppa.” Aku pergi. aku salah tingkah. Aku tidak ingin melihat
dia terlalu lama. Hatiku tergores. Aku tidak ingin mengingat dosa yang lalu. Aku
mohon biarkan aku tetap fokus dengan Kasus ini.