Namanya
adalah Lestari, rambutnya lurus dan berwarna hitam legam dan sedikit kecoklatan
diujungnya. Berkibar lembut diterpa
angin yang berhembus di tengah laut mediterania. Mata coklat legam Lestari,
menatap laut lepas dengan deburan ombak yang lembut. Diatas kapal pesiar, ia mengalihkan
perhatiannya ke satu persatu para penumpang yang berlalu lalang. Kakinya yang
jenjang disilangkan dengan anggun, tangan kanannya mengambil secangkir teh
hangat yang disediakan lalu ia menghirup
pelan aroma tehnya. Ia sangat menikmati suasana
seperti ini, ia menerawang jauh langit biru dan matahari yang bersinar
sangat terik. Ia tiba-tiba begitu tertarik dengan seorang pria berpakaian rapi
dengan kemeja berwarna biru tua pekat.
“Joseph,”
Panggil Lestari kepada pria tersebut. Dengan reflek cepat pria tersebut dan
menoleh. Ia menatap Lestari dengan tatapan bingung. Lestari menimpali dengan
senyuman lembut.
“Kamu
benar Joseph kan? Joseph Lubis, ketua peniltian sosial di desa banyuhijau?”
Tanya Lestari lugas. Pria yang ia
panggil tadi lalu mendekat, dan mengajaknya berjabat tangan.
“Apakah
kamu Lestari? Lestari WIbawa?” Tanya pria tersebut dengan sedikit ragu.
“Iya,
teman satu kelompokmu yang saat itu pernah mengirimkan surat cinta kepadamu.”
Ucap Lestari dengan tenang. Joseph tertawa lepas.
“Ya
ampun kamu masih ingat itu?” Tanya joseph sembari masih tertawa lepas
“Tentu
saja, itu karena aku masih ada hutang cerita denganmu.” Lestari menanggapinya
dengan wajah dingin namun masih menampakkan kesan anggun.
“kamu
sudah berubah, jadi aku tidak sempat mengenalmu. Mungkin karena karena sekarang
kamu tak lagi pakai kacamata.” Joseph tersenyum simpul. Lestari hanya menimpali
dengan tatapan dingin.
“Duduklah
ada yang ingin aku ceritakan.” Ucap Lestari dalam
“Jangan
bilang kamu masih ingin mengejarku lagi. Kamu memang aneh.” Timpal joseph, ia tertawa lepas lagi.
“Ternyata
kamu masih memandang rendah diriku” Lestari menimpali dengan dingin. Tawa
Joseph berhenti, ia sadar sepertinya bercandaanya sudah keterlaluan. Belum
sempat Joseph melanjutkan pembicaraan, tangan lestari melambai didepan
wajahnya. Tiba-tiba mulut Joseph terkunci rapat-rapat, badannya tidak bisa
digerakkan. Matanya menatap Lestari dalam-dalam. Tangan Lestari yang satunya
mengusap kedua mata Joseph sebentar. Joseph tidak dapat melihat apa-apa. Semua
gelap gulita
“Buka
matamu, Joseph” pinta Lestari tajam.
“Aku
minta maaf, Rohmu sedang aku kendalikan. Aku hanya ingin mengajakmu
berjalan-jalan sebentar.” Tangan Lestari berubah menjadi dingin ketika
menggenggam tangan Joseph. Joseph menjadi sangat ketakutan, ia tak bisa berkata
apa-apa. Mulutnya masih terkunci. Ia sudah berdiri entah dimana, sudah bukan
diatas kapal pesiar lagi. Ia berdiri diatas awan, langit berubah-ubah dalam sekejap,
dari senja hingga fajar. Ia merasakan
getaran yang tak karuan.
“Kita
sudah sampai Joseph.” Bisik Lestari pelan.
“Aku
ingin menunjukkan kepadamu. Ini hutangku kepadamu. Yang pernah aku tulis
diantara surat yang aku kirimkan kepadamu.”
“Mungkin
kamu lupa, namun janji adalah hutang.
Hari ini aku ingin menunjukkan kepadamu. Mengapa aku begitu aneh dihadapanmu.”
Bisik Lestari pelan. Tubuh Joseph gemetar ketakutan, ia merasakan hawa yang
begitu dingin dan mencekam. DIhadapannya sebuah desa yang dulu menjadi
tempatnya dan Lestari dalam satu kelompok penilitian social.
Swiiing,
Jebuum,
Seseorang
tiba-tiba hadir disamping Joseph, Ia adalah seorang pria yang begitu
tampan. Ia adalah refleksi dari Joseph,
namun ketampanannya seribu kali lebih baik dari pada Joseph. Tinggi badannya
mencapai 2 meter. matanya berwarna hitam legam tak ada selaput putih seperti
manusia kebanyakan kulitnya pucat, sepucat warna putih murni. Ketika ia
tersenyum kepada Joseph ia menampakkan gigi taringnya yang begitu tajam. Ia
membungkuk dan memberikan hormat, lalu menyeringai. Tangannya menyentuh bahu Joseph.
“Halo,
Joseph Lubis. Perkenalkan aku adalah Abraham.
Dalam ajaranmu, kami biasa disebut sebagai ‘ruh penjaga’ ” ucapnya
dalam-dalam dengan suaranya yang menggelegar, taringnya yang tajam terlihat
begitu putih mengkilau,
“Tak
perlu takut, karena aku sudah ada sejak kamu terlahir, aku senang sekali
Lestari mempertemukan aku denganmu. Karena untuk bertemu denganmu aku harus
menguras tenaga yang sudah aku kumpulkan selama seratus tahun.” Ucapnya panjang
lebar. Joseph menatapnya penuh dengan ketakutan, hatinya tak bisa tenang.
Hatinya masih bergemuruh, ia masih tak bisa berkata apa-apa.
“Joseph,
aku pernah berkata kepadamu. ‘sampaikan salamku pada kembaranmu’ ” Lesatari
melanjutkan perkatannya lagi.
“dia
adalah yang aku maksud, perlu kamu ketahui. Jika aku tidak pernah jatuh cinta
kepadamu, semua surat yang aku berikan kepadamu sesungguhnya aku beikan
kepadanya bukan kepadamu. Aku harap dengan hal ini aku bisa meluruskan
pandangan yang sudah keliru.” Lestari menatap dingin Joseph, Joseph gemetar
tidak karuan. Hatinya tiba-tiba bergemuruh tak karuan. Ia sangat ketakutan.
“Mari
ikut aku jalan-jalan agar kamu bisa merubah pandangan anehmu tentang diriku.
Ayo, Abraham kamu harus ikut. Agar ruh Joseph tidak dimakan oleh harimau
penjaga desa ini.” Tangan Joseph digenggam erat oleh Lestari, pundak sebelah
kanan diremas sangat keras oleh Abrham.
“kita
akan pergi,”
“sepertinya
ruh pemangsa sudah menemukan kita” ucap Abraham, bagaikan anjing yang sedang
mengendus, ia melompat dengan ketinggian satu meter dan bergerak kea rah utara
dan barat dalam waktu tidak sampai sepersekian detik. Matanya yang hitam
menyala menjadi berwarna merah. Abraham berdiri diatas pohon besar yang berumur
ratusan tahun tidak jauh tempat mereka berdiri,
“Turun
Abraham, tidak perlu kamu melawannya. Dia hanyalah sekumpulan makhluk yang
tidak cerdas.” Pinta lestari, Joseph masih diam tak berkutik.
“Kenapa
kamu tak berbicara? Padahal aku sudah tidak lagi mengunci mulutmu.” Lestari
menatap tajam, deg! Jantung Joseph berdegup kencang melihat tatapan Lestari. Sejak
awal bertemu dia sudah tidak suka dengan tatapan lestari. Tatapan Lestari
memikat dan dalam satu kesempatan sangat mematikan, baginya bola mata Lestari
bisa membaca pikirannya sampai paling dalam.
“sebentar
lagi para pemangsa itu akan dating, bau udaranya sudah tercemar dengan
nafasnya.” Abraham turun dari pohon, dan merangkul pundak joseph. Lestari
menatap langit yang awalnya biru tiba-tiba menghitam.
“bukan
sebentar lagi, tapi mereka sudah ada disini.” Ucap lestari, tangan kanannya
mengayun keatas lalu menyentuh ubun-ubun Joseph, tiba-tiba Joseph menjadi tidak
terlihat.
“jangan
bernafas jika kamu tidak ingin dimakan oleh pemangsa ini, aku akan
menghilankanmu sebentar.” Lestari berbisik kepada Joseph. Mata Lestari melirik
tajam ke arah Abraham. Secara spontan
tubuh Abraham berubah menjadi harimau, tingginya dua kali lipat lebih besar
dari tubuh awal, matanya menjadi merah, bulunya campuran antara putih dan
hitam.
“GRRRRRR”
Abraham menggeram. Sekumpulan anjing jadi-jadian berlari kearah tempat mereka
melingkar. Badan atas anjing, badan bawah manusia, mereka semua berwarna hitam
legam, matanya merah menyala.
“KAMI
MENCIUM BAU RUH MANUSIA….. RRRAAAAW” teriak salah satu anjing jadi-jadian.
“APAKAH
ITU KAMU, …. RRRRAAW.” Salah satu dari mereka tangannya menunjuk kearah
Lestari, kukunya tajam-tajam.
“GRRRRR…”
Abraham menggeram, tubuhnya sudah mencoba untuk berlari menghajar anjing
jadi-jadian. Tangan Lestari mencengkeram kuat tubuh Abraham, ia menahan Abraham
agar tidak gegabah menyerang anjing jadi-jadian. Abraham tidak bisa apa-apa,
karena cengkraman Lestari mebuatnya tidak bisa melakukan apa-apa
“makan
saja aku.” Lestari menantang sekawanan anjing jadi-jadian itu. Aura Lestari
yang tenang berubah menjadi sangat gelap dan kejam. Matanya berubah menjadi
putih, suaranya tiba-tiba berubah menjadi suara laki-laki. Mulutnya mengeluarkan
asap. Nyali sekelompok anjing itu
tiba-tiba surut, Abraham tiba-tiba ketakutan, Badan Joseph kaku dan rasanya dia
mau pingsan. tiba-tiba ada getaran keras dari tempat Lestari berpijak. Ketidak pedulian
sekelompok anjing-anjing tersebut akan aura Lestari meskipun nyali mereka
surut, membuat mereka berlari untuk memakan Lestari. Baginya aura Lestari itu
membangkitkan nafsu makan mereka.
Sekelompok
anjing tersebut berlari dengan air liur bertebaran.
“KRRRRRAAAAAAAAH,
KAMIIII LAPAAAAR. AUUUUUU. RRRRRAAAW” sahutan-sahutan lolongan anjing terdengar
riuh.